Gula dalam Minuman? Energi atau Racun?
Masa sekarang siapa sih yang tidak mengenal teh atau kopi kekinian, teh atau kopi viral yang hampir setiap hari dikonsumsi oleh anak-anak, remaja sampai dewasa, yang selalu bilang kalo nggak ngopi ada yang kurang. pusing dikit ngopi, dan kadang menjadi self reward bagi sebagian orang.
tanpa di sadari kita, konsumsi teh atau kopi viral ini adalah intaian ruang cuci darah yang siap menjemput kapan saja, menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonuwu menyebut Indonesia sebagai negara dengan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) tertinggi di Asia Pasifik. Padahal, minuman dalam kemasan ini rata-rata mengandung 22,8 gr gula per 250 ml, yaitu sekitar 45,6% dari batas konsumsi gula yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan RI, sesuai rilis yang dikeluarkan kemenkes pada website resmi november 2024 lalu.
Dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 juga menunjukkan sebanyak 47,5% warga Indonesia berusia 3 tahun ke atas, mengkonsumsi minuman manis lebih dari 1 kali dalam sehari. Kemudian 43,3% lainnya mengkonsumsinya 1-6 kali dalam satu minggu. ini menjadi sebuah peringatan dini akan minuman dan kopi viral yang akhir-akhir ini beredar di kalangan masyarakat. beberapa minuman yang memiliki kadar gula tinggi antara lain soda, minuman berenergi, jus buah dalam kemasan, minuman teh dan kopi kekinian.
rasa candu minuman ini lambat laun akan menumpuk gula darah dalam tubuh, ciri-ciri indikasi kelebihan gula darah dalam tubuh mudah merasa lelah dan lapar, penglihatan mata kabur, gerakan tubuh lebih lambat, muncul keinginan untuk mengkonsumsi makanan manis dan luka susah sembuh.
konsumsi gula ini sebenernya sudah bisa kita dapatkan dari makanan sehari-hari terutama karbohidrat, karbohidrat yang berfungsi menjadi energi dan kalori bagi tubuh dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. dalam rilis resmi kemenkes RI batas konsumsi gula yang disarankan bagi tiap orang adalah 10% dari total energi (200 kkal) atau sebanyak 50 gram atau 4 sendok makan per hari. sebenernya gula yang dikonsumsi akan disimpan dalam tubuh sebagai cadangan kalori ketika kita melakukan aktivitas olahraga berat dan dalam rentan waktu lama atau saat kita sedang melakukan puasa, namun jika gula tersebut tidak pernah kita gunakan akan menumpuk menjadi lemak dan memicu timbulnya masalah kesehatan seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes militus, gigi berlubang, penyakit lemak hati, kerusakan pada kulit, kanker, kerusakan pada ginjal.
kita sebenarnya tidak perlu khawatir tentang hal itu, kita dapat mencegah dan merawat diri kita dengan membatasi gula yang kita konsumsi setiap hari, pada saat membeli makanan kita baca label makanan seberapa banyak kandungan gula pada informasi nilai gizi, pilih makanan dan minuman yang mengandung pemanis alami, lalu kombinasikan gula dengan sumber makanan lain seperti makanan yang mengandung protein, serat, lemak sehar untuk memperkambat metabolisme gula dalam tubuh sehingga akan merasa kenyang lebih lama.
cara sederhana mudah dan murah adalah melakukan aktivitas fisik rutin setiap harinya, sesuaikan dengan keadaan sehari-hari kita dan usia kita, Contoh : berjalan kaki, bersepeda, olahraga, dan bentuk rekreasi aktif (misalnya, senam, yoga) Aktivitas fisik juga dapat dilakukan di tempat kerja dan di sekitar rumah. Segala bentuk aktivitas fisik dapat memberikan manfaat kesehatan jika dilakukan secara rutin dan dengan durasi dan intensitas yang cukup. untuk usia dewasa (18-64 tahun) bisa dilakukan dalam rentan 150-300 menit dalam seminggu dan untuk usia anak dan remaja (5-17 tahun) bisa dilakukan aktivitas sedang hingga berat selama minimal 60 menit seminggu.
Jadi mau pilih yang mana? hidup seimbang dengan olahraga, makan sehat dan sesekali menikmati minuman viral itu sebagai self reward atau merutinkan minuman viral itu dengan resiko yang harus kita siap hadapi nantinya dikemudian hari. Erwin Darmawato, Guru PJOK SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang.
